Syaikh Muqbil: Kenapa kita butuh pada al-jarh wat ta’dil

Dijawab oleh Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah

Pertanyaan: Kenapa engkau memilih manhaj al-jarh wat ta’dil sebagai satu metode? Padahal banyak para dai dan mushlihin menganggapnya sebagai sebab perpecahan ummat dan menyebabkan kebencian orang yang menempuh metode ini? Mereka beralasan bahwa jaman al-jarh wat ta’dil telah berakhir bersamaan dengan jaman periwayatan?

Jawab: Ya… Jika kita meninggalkan al-jarh wat ta’dil, maka ucapan Syaikh Imam Qudwah Syaikh Ibnu Baz dan ucapan Ali Thantawi adalah sama saja. Padahal keduanya tidak sama.

Kemudian apa –barakallahu fikum-?

Kita butuh untuk menjelaskan Hasan at-Turabi, Yusuf al-Qardhawi, dan Abdul Majid az-Zindani.

Kemudian apa –barakallahu fikum-?

Demikian juga pimpinan Ikhwanul Muslimin, harus dijelaskan keadan mereka. Demikian juga ulama penjilat pemerintah, harus dijelaskan keadaan mereka, dimana mereka membela pemerintah dengan silat lidah mereka yang bathil.

[Contoh-Contoh Ayat Dan Hadits Yang Berisi Jarh]

Padahal Allah Yang Maha Mulia berfirman dalam Al-Qur’an yang mulia:

وَلَا تُجَادِلْ عَنِ الَّذِينَ يَخْتَانُونَ أَنْفُسَهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ خَوَّانًا أَثِيمًا

“Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa.” (QS. an-Nisa: 107)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الأَئِمَّةَ المُضِلِّينَ

“Sesungguhnya yang aku takutkan atas ummatku hanyalah para pemimpin yang menyesatkan.” (HR. Abu Dawud 4252)

Siapakah shahabat yang meriwayatkannya? Siapa yang meriwayatkannya, wahai Zakaria? Engkau, siapa yang meriwayatkannya? Abu Dawud, benar. Shahabat yang meriwayatkannya adalah Tsauban dikeluarkan oleh Abu Dawud.

Apa, wahai ikhwan? Barakallahu fikum. Jika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda demikian.

Dan Allah Yang Mulia berfirman dalam al-Qur’an yang mulia:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.” (at-Taubah: 34)

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بِئْسَ أَخُو العَشِيرَةِ

“Dia sejelek-jelek orang.” (HR. al-Bukhari dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha)

Dan beliau bersabda sebagaimana dalam Shahih al-Bukhari:

مَا أَظُنُّ فُلاَنًا وَفُلاَنًا يَعْرِفَانِ مِنْ دِينِنَا شَيْئًا

“Aku tidak mengira si fulan dan si fulan mengira sedikitpun dari agama kita.” (HR. al-Bukhari dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha)

Dan beliau bersabda melarang Mu’adz:

يَا مُعَاذُ، أَفَتَّانٌ أَنْتَ يا مُعَاذ

“Wahai Mu’adz, apakah engkau tukang fitnah wahai Mu’adz.” (HR. al-Bukhari)

Dan beliau berkata kepada Abu Dzar:

إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ

“Sesungguhnya engkau orang yang masih ada perkara jahiliyyah padamu.” (HR. al-Bukhari)

Beliau berkata kepada para istrinya:

إِنَّكُنَّ لَأَنْتُنَّ صَوَاحِبَاتُ يُوسُفَ

“Sesungguhnya kalian (seperti) para wanita Nabi Yusuf.” (HR. an-Nasai)

Ya, segala puji bagi Allah. Kami telah menyebutkan beberapa dalam al-Makhraj min al-Fitnah, dan juga di al-Jami’ ash-Shahih mimma Laisa fish Shahihain. Dan ini dari sisi dalil-dalil dan telah dikumpulkan oleh ahlul ilmi.

Sesungguhnya aku memuji Allah, al-jarh wat ta’dil telah membinasakan Abdurrahim ath-Thahhan. Telah membinasakannya, wahai ikhwan. Al-jarh wat ta’dil juga telah memotong lisan Yusuf bin Abdillah al-Qardhawi.

Betapa banyak orang … ada orang dari Mesir, mereka memberitahu kami -dalam nasehat- telah hadir banyak sekali pihak berwenang. Dan setelah itu, orang tadi menafsirkan Surat al-Ashr: “Demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian”. Dia berkata: “Menteri dalam negeri berada dalam kerugian kecuali jika dia termasuk orang-orang yang beriman”. Setelahnya dia berkata: “Aku tidak merasa kecuali para menteri dan para pegawai masing-masing mereka menutupi dengan yang lain agar tidak terlihat”. Dia berkata: “Sesungguhnya dia dalam kerugian kecuali jika dia seorang yang beriman.”

Aku memuji Allah, kemudian apa wahai ikhwan? Para ahli bid’ah goncang hati-hati mereka karena satu kaset. Dan kadang sampai kepada mereka di Inggris, atau Amerika atau yang lainnya. Wallahul musta’an.

Penanya: Dan orang yang mengatakan al-jarh wat ta’dil telah berakhir bersamaan (berakhirnya) masa periwayatan?

Jawab: Orang-orang yang mengatakan jarh wa tadil telah berakhir, wahai ikhwan, mereka tahu bahwa mereka orang-orang yang dijarh. Karena ini mereka tidak ingin seseorang berbicara dalam al-jarh wat ta’dil. Aku telah dipertemukan dengan orang-orang diantara mereka di Maktab At-Taujih dan al-Irsyad setelah terbitnya kitab al-Makhraj min al-Fitnah. Mereka berkata: “Ghibah. Kitab al-Makhraj min al-Fitnah (yang artinya jalan keluar dari fitnah) adalah ghibah. Kitab itu adalah jalan masuk ke dalam fitnah.”

Setelah itu apa? Aku telah mengatakan kepada mereka dan mereka telah mengatakan kepada kami: “Kita akan berdamai. Kita akan berdamai.” Katakan kepada mereka: “Mereka diam, dan baru kita akan berdamai. Mereka tidak akan gelisah dan tidak apa-apa.” Mereka telah mengatakan: “Engkau telah menampar kami kemudian setelahnya kita berdamai?!” Benar kita telah menampar mereka, tetapi aku tidak pernah berkata: “Kita akan berdamai.” Jika tidak, mereka telah menampar, kemudian kita membiarkan tamparan itu mendingin beberapa hari, kemudian kita datang kepada mereka dengan tamparan yang lain. Jika tidak, itu tidaklah benar? Perang itu penuh tipu daya.

Kemudian apa, wahai ikhwan? Mereka takut terhadap al-jarh wat ta’dil karena mereka mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang yang dijarh. Demikian juga karya-karya tulis (tentang al-jarh wat ta’dil) sangat mereka takuti. Seorang tokoh kabilah yang simpati kepada Ikhwanul Muslimin berkata kepadaku: “Apakah engkau menjarh mereka, wahai Abu Abdirrahman?” Aku menjawab: “Kita akan berdamai. Dan yang telah berlalu sudah berlalu.” Dia berkata: “Tidak apa-apa. Dan yang telah berlalu sudah berlalu. Dan engkau jangan menulis.” Dia mengatakan: “Engkau boleh berbicara, berbicara di kaset, tidak apa-apa.” Tetapi tulisan ini membikin mereka gelisah. Ketika aku mengetahui tulisan ini membuat mereka gelisah, aku bertekad untuk mengumpulkan kaset-kaset rekaman dalam kitab-kitab dan menerbitkannya. Walahul musta’an.

Sumber: http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=124198

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

17 + four =