Sikap Terhadap Orang-orang yang Berwala’ kepada Seorang Mubtadi’

Ada seorang -yang di sini tidak disebutkan namanya- yang telah dinyatakan oleh para ulama sebagai ahli bid’ah (mubtadi’) dengan jarh mufassar, kemudian masih ada sebagian orang yang berwala’ kepadanya. Lalu bagaimana sikap kaum muslimin terhadap orang-orang yang berwala’ kepadanya? Berikut ini arahan dan bimbingan Syaikh Ubaid al-Jabiri hafizhahullah tentang hal itu:

“Adapun orang-orang yang berwala’ kepadanya, maka barangsiapa yang membelanya dengan penuh penentangan dan kesombongan dari kebenaran, maka berhati-hatilah darinya …. berhati-hatilah darinya …. berhati-hati dan dijauhi …

Demikian juga dihajr jika dia menyebarkan pemikirannya. Aku berpendapat: Orang yang membelanya dengan pembelaan yang memperbolehkan pendapat-pendapat orang itu dan memandang baik madzhabnya, maka ini –barakallahu fik– berhati-hati darinya. Dan termasuk kehati-hatian yang sempurna dengan menghajrnya. ….

Adapun orang yang tawaqquf (diam tidak mengambil sikap terhadap mubtadi’ itu) tetapi dia bersama kalian membantu kalian dalam perkara birr dan takwa, menyebarkan tauhid dan sunnah, maka orang ini berlemah-lembutlah dengannya, dan pelan-pelanlah, sehingga sunnah akan mengembalikan dia kepada kalian Insya Allah. Ya ….

Intinya, bahwa barangsiapa yang berwala’ kepada …… (orang yang telah dinyatakan sebagai mubtadi’, admin) ada dua kelompok:

Satu kelompok: yang membelanya, berdebat membelanya, membolehkan prinsip yang dia pegang, dan berpandangan bahwa dia tidak salah, atau menyepelekan kesalahan-kesalahannya. Maka orang ini berhati-hatilah darinya dan dihajr. Tidak ada kemuliaan baginya. Kalian faham? Yakni berhati-hatilah kalian darinya dan hajr-lah pelajaran-pelajarannya. Jangan kalian mengajaknya musyawarah. Ini bila dia adalah penuntut ilmu di antara kalian. Adapun jika dia orang awam, maka mereka tidak faham sedikitpun.

Kelompok kedua: yang berhati-hati atasnya dan memandang bahwa orang itu menjaga nasehat dan tidak membela kesalahan-kesalahan orang itu, dimana dia berkata: “Ya di sisinya ada demikian dan demikian” akan tetapi dia berhati-hati atasnya, maka berlemah lembutlah kepadanya, dan bantulah dia dalam memberikan nasehat kepada gurunya yang dia pandang ringan kesalahan-kesalahannya, sampai dia kembali kepada kalian Insya Allah. Adapun jika dia kembali menyebarkan pemikirannya, maka gabungkanlah dengan kelompok pertama.

(Sumber: http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=125637&view=findpost&p=617578)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

four − 3 =