Mencium Tangan Orang Shalih dan Membungkuk Untuk Dia

Mencium Tangan Orang Shalih dan Membungkuk/Merunduk Untuk Dia

Oleh: Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah

 

S: Apa hukum mencium tangan seorang yang shaleh dan membungkuk untuknya? Apakah itu boleh atau tidak?

J: Adapun mencium tangan, maka sekumpulan dari ahlul ilmi berpendapat akan kemakruhannya terlebih lagi jika hal itu menjadi suatu kebiasaan.
Sedangkan jika dia melakukan kadang-kadang saat bertemu maka tidak mengapa hal itu, baik terhadap orang yang shaleh, terhadap penguasa yang shaleh, atau terhadap orang tua… Hal itu tidak mengapa. Tetapi kalau membiasakannya itu yang dimakruhkan.
Sebagian ahlul Ilmi mengharamkan hal itu jika menjadi kebiasaan yang terus-menerus ketika bertemu. Adapun jika dia melakukannya kadang-kadang maka tidak mengapa.

Adapun sujud di atas tangan yaitu bentuknya dia bersujud di atas tangan orang, dia meletakkan dahinya di atas tangan orang, ini sesuatu yang haram. Sebagian ahli menyebutnya sebagai sujud sughra (kecil). Ini tidak boleh. Yaitu dia meletakkan dahinya di atas tangan seseorang sebagai bentuk sujud di atasnya.
Sedangkan mencium tangan orang dengan mulutnya, jika tidak menjadi kebiasaan tetapi jarang atau sedikit, maka tidak mengapa.
Karena telah datang dari Nabi Shallallahu Alaihi Salam bahwasanya sebagian sahabat mencium tangan beliau dan kaki beliau. Hal itu dilakukan oleh sebagian sahabat. Dan perkaranya mudah jika itu sedikit. Sedangkan jika kebiasaan dia secara terus-menerus maka dimakruhkan atau diharamkan.

Sedangkan al-inhina’ (membungkuk/merunduk untuk orang), maka tidak boleh. Yaitu membungkuk seperti orang yang rukuk ini tidak boleh, karena rukuk adalah satu ibadah. Tidak boleh dia untuk membungkuk.
Adapun jika dia merunduk karena sesuatu… Dia membungkuk bagi orang karena orang tersebut pendek sedangkan dia tinggi kemudian dia membungkuk untuknya sehingga dapat berjabat tangan dengannya, bukan karena untuk pengagungan atau ta’zhim, tetapi karena orang yang diajak salam itu pendek atau dalam posisi duduk maka ini tidak mengapa.

Sedangkan Jika dia membungkuk untuk mengagungkannya maka ini tidak boleh dan dikhawatirkan termasuk dari kesyirikan, jika dia bermaksud untuk mengagungkannya dengan hal itu.
Diriwayatkan dari Nabi Shallallahu salam bahwasanya beliau ditanya: wahai Rasulullah seseorang bertemu dengan orang lain, apakah dia boleh membungkuk untuknya? Beliau menjawab: tidak. Dia bertanya: Apakah aku memeluknya dan menciumnya? Beliau menjawab: tidak. Dia bertanya kembali: Apakah aku mengambil tangan dan berjabat tangan dengannya? Beliau menjawab: iya.
Meskipun sanadnya dhaif, tetapi hadits yang sanadnya dhaif ini hendaknya diamalkan karena syawahid yang banyak menguatkannya secara makna. Dan banyak dalil demikian juga menunjukkan bahwasanya membungkuk dan rukuk bagi orang itu tidak boleh.

Kesimpulannya bahwasanya tidak boleh bagi orang tersebut untuk membungkuk selamanya untuk siapapun tidak untuk raja atau untuk selain raja, namun jika merunduk atau membungkuk itu bukan untuk pengagungan, tetapi karena orang yang dia salami itu pendek atau dalam posisi duduk kemudian dia membungkuk atau merunduk untuk menyalaminya maka tidak mengapa hal itu.

 

Aslinya:

تقبيل يد الرجل الصالح والانحناء له
ما حكم تقبيل يد الرجل الصالح والانحناء له، هل يجوز أم لا؟

أما تقبيل اليد فذهب جمع من أهل العلم إلى كراهته، ولا سميا إذا كان عادةً، أما إذا فعل بعض الأحيان عند بعض اللقاءات فلا حرج في ذلك، مع الرجل الصالح مع الأمير الصالح، مع الوالد …… لا حرج في ذلك، لكن اعتياده يكره، وبعض أهل العلم حرم ذلك إذا كان معتاداً دائماً عند اللقاء، أما فعله بعض الأحيان فلا حرج في ذلك، أما السجود على اليد كونه يسجد على اليد يضع جبهته على اليد هذا شيء محرم، ويسميه بعض أهل العلم: السجدة الصغرى، هذا لا يجوز، كونه يضع جبهته على يد إنسان سجودا عليها، لا، لكن تقبيلها بفمه إذا كان غير معتاد، إنما لنادر أو قليل فلا بأس، لأنه ورد عن النبي -صلى الله عليه وسلم- أنه قبل بعض الصحابة يده وقدمه، فعله بعض الصحابة فالأمر في هذا سهل إذا كان قليلاً، أما اعتياده دائماً فيكره أو يحرم. وأما الانحناء فهو لا يجوز كونه ينحني كالراكع هذا لا يجوز، لإن الركوع عبادة، لا يجوز أن ينحني، أما إذا كان انحنائه لأجل …….، انحنى له لأنه قصير والمسلم طويل، فانحنى له حتى يصافحه، لا لأجل التعظيم بل لأجل أن المسلم عليه قصير، أو مقعد أو جالس فلا بأس بهذا، أما أن ينحني لتعظيمه هذا لا يجوز، ويخشى أن يكون من الشرك إذا قصد تعظمه بذلك، وروي عن النبي -صلى الله عليه وسلم- أنه سئل قيل: يا رسول الله: (الرجل ألقى الرجل فهل أنحني له؟ قال: (لا)، قال: فهل ألتزمه وأقبله؟ قال: (لا) قال: فهل آخذ بيده وأصافحه؟ قال: (نعم)، وإن كان في سنده ضعف، الحديث ضعيف الإسناد لكن ينبغي العمل به لأن الشواهد الكثيرة تشهد له بالمعنى، والأدلة الكثيرة كذلك تدل على أن الانحناء والركوع للناس لا يجوز، فالحاصل أنه لا يجوز له الانحناء أبداً لأي شخص لا للملك ولا لغير الملوك، ولكن إذا كان الانحناء لا لأجل التعظيم بل لأجل أنه سلم عليه قصير أو مقعد أو جالس فانحنى ليسلم عليه فلا بأس بذلك.

Sumber: http://www.binbaz.org.sa/noor/516

 

Syarat Bolehnya Mencium Tangan Ulama

Oleh: Syaikh Muhammad bin Nuh Al-Albani rahimahullah

Adapun mencium tangan, dalam masalah ini ada hadits dan atsar yang banyak, yang menunjukkan bahwa hal itu tsabit dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka kami berpendapat bolehnya mencium tangan seorang ulama jika terpenuhi syarat-syarat berikut:

  1. Tidak menjadikannya sebagai kebiasaan, dimana seorang ulama membiasakan membentangkan tangannya kepada para muridnya dan mereka biasa bertabarruk dengan hal itu. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meskipun tangannya dicium, namun jarang. Jika demikian tidak boleh menjadikannya sebagai sunnah yang terus-menerus, sebagaimana diketahui dalam qawaid fiqih.
  2. Hal itu tidak menyebabkan sombongnya si ulama tadi daripada lainnya dan ujub pada dirinya, seperti itu sudah terjadi pada sebagian masyayikh sekarang.
  3. Hal itu tidak menyebabkan hilangnya sunnah yang sudah diketahui, seperti sunnah berjabat tangan, karena jabat tangan ini disyariatkan dengan perbuatan nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan sabdanya. Dan jabat tangan ini sebab bergugurannya dosa dua orang yang saling jabat tangan, sebagaimana diriwayatkan tidak hanya dalam satu hadits, maka tidak melalaikannya karenanya, dan keadaan terbaiknya hal itu boleh.”

Aslinya:

وقال الشيخ الألباني – رحمه الله – :
وأما تقبيل اليد ، ففي الباب أحاديث وآثار كثيرة ، يدل مجموعها على ثبوت ذلك عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فنرى جواز تقبيل يد العالم إذا توفرت الشروط
الآتية :
1 – أن لا يتخذ عادة ، بحيث يتطبع العالم على مد يده إلى تلامذته ، و يتطبع هؤلاء على التبرك بذلك ، فإن النبي صلى الله عليه وسلم وإن قبلت يده فإنما كان ذلك على الندرة ، وما كان كذلك فلا يجوز أن يجعل سنة مستمرة ، كما هو معلوم من القواعد الفقهية .
2 – أن لا يدعو ذلك إلى تكبر العالم على غيره ، ورؤيته لنفسه ، كما هو الواقع مع بعض المشايخ اليوم .
3 – أن لا يؤدي ذلك إلى تعطيل سنة معلومة ، كسنة المصافحة ، فإنها مشروعة بفعله صلى الله عليه وسلم وقوله ، وهي سبب تساقط ذنوب المتصافحين ، كما روي في غير ما حديث واحد ، فلا يجوز إلغاؤها من أجل أمر ، أحسن أحواله أنه جائز . ” السلسلة الصحيحة ” (1/1/302ـ تحت حديث رقم160) .

http://www.albaidha.net/vb4/showthread.php?t=35041

Comments are closed