Kapan Puasa Arafah: Tanggal 9 Dzulhijjah Satu Negeri Atau Saat Orang Wukuf di Arafah

Kapan Puasa Arafah di satu Negeri Luar Al-Haramain (Arab Saudi): Apakah Tanggal 9 Dzulhijjah Sesuai Keputusan Pemerintah Negeri Tersebut Atau Saat Orang Wukuf di Arafah?

1. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan :

ولكن إذا كان البلدان تحت حكم واحد وأمر حاكم البلاد بالصوم، أو الفطر وجب امتثال أمره؛ لأن المسألة خلافية، وحكم الحاكم يرفع الخلاف.
وبناء على هذا صوموا وأفطروا كما يصوم ويفطر أهل البلد الذي أنتم فيه سواء وافق بلدكم الأصلي أو خالفه، وكذلك يوم عرفة اتبعوا البلد الذي أنتم فيه.

✏ كتبه محمد الصالح العثيمين في 28/8/1420 هـ.

Apabila berbagai daerah itu di bawah satu hukum negara, dan pemerintah negara telah memutuskan puasa atau hari raya, maka WAJIB MELAKSANAKAN KEPUTUSAN TERSEBUT. Karena permasalahan ini (yakni apakah hilal itu satu berlaku untuk seluruh dunia, ataukah masing-masing negara berdasarkan ru’yahnya sendiri-sendiri, pen) adalah masalah khilafiyyah, sedangkan keputusan pemerintah menyelesaikan (menyudahi) perselisihan tersebut.

Berdasarkan hal tersebut, maka berpuasalah dan berhari-rayalah sebagaimana penduduk negeri yang antum ada di situ, baik mencocoki negeri aslimu ataukah tidak.
DEMIKIAN PULA HARI ARAFAH, IKUTILAH NEGERI YANG ANTUM BERADA PADANYA.

✏__Ditulis oleh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin pada 28/8/1420 H

Sumber: Lihat Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Ibni ‘Utsaimin 19/41, via WhatsApp Miratsul Anbiya Indonesia


2. Asy Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad hafizhahullah ditanya:

متى يصوم اهل بلد اندونيسيا صيام عرفة ..؟
هل نحن الاندونيسيون نصوم عرفة على التاريخ في السعودية..؟ علما بأنه قد يختلف اثبات أول الشهر الهجري بين بلدنا و السعودية..؟

فأجاب الشيخ عبد المحسن العباد -حفظه الله تعالى-: ” نصوم عند وقوف الحجاج بعرفة..بارك الله فيكم”. -انتهى

كتبت ثم سألت الشيخ بواسطة الاخ حارس السوكابومي
المدينة، 19 سبتمبر 2014م.
أبو عبد الله توباغوس نور الشمس البنتني

Kapan Penduduk Negeri Indonesia Berpuasa Arofah..?

Soal: “Apakah kami Orang-Orang indonesia berpuasa hari Arofah berdasarkan penanggalan di Saudi Arabia? Karena perlu diketahui bahwasanya seringkali terjadi perbedaan dalam penetapan awal bulan hijriyah antara negeri kami dan Saudi Arabia..?

Maka Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad -semoga ALLOH Ta’aala menjaganya- menjawab: “Kita berpuasa ketika wuqufnya para haji di Arofah..Semoga ALLOH Ta’aala mmberkahi kalian..” -sekian.

Saya telah tuliskan soal ini dan tanyakan kepada Syaikh dengan perantaraan Al Akh Haris Sukabumi yang berada di Madinah. Madinah, 19 September 2014 M /24 Dzulqo’dah 1435H.
Abu ‘AbdiLLAH Tubagus Nursyams Al-Bantany


3. HILAL DZUL HIJJAH DI NEGARA KITA BERBEDA DENGAN HILAL NEGARA SAUDI, GIMANA PUASA ‘ARAFAHNYA?

Permasalahan ini sebenarnya terkait dengan dua permasalahan;
– Apakah jika di suatu negara telah melihat hilal, maka berlaku pula untuk negara yang lainnya?
– dan juga apakah puasa ‘Arafah ini terkait dengan waktu atau dengan tempat?

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, sampai-sampai para ulama yang memilih adanya perbedaan rukyah pada masing-masing negara juga berbeda pendapat.

Soal pertama: Apakah jika di suatu negara telah melihat hilal, maka berlaku pula untuk negara yang lainnya? Jika negara satu dengan yang lainnya saling berdekatan maka satu rukyah, namun jika saling berjauhan maka masing-masing negara memiliki rukyah sendiri-sendiri. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh madzhab Syafi’iyah, sebagian madzhab Hanafiyah dan pendapat juga dipilih oleh Imam Ahmad, Ibnul ‘Arabi, Syaikhul Islam dan ulama yang lainnya.

Dalilnya adalah:

Pertama: Firman Allah ta’ala: {فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ} “Barangsiapa yang telah menyaksikan bulan (Ramadhan) maka berpuasalah” [Al Baqoroh:185] Allah ta’ala memerintahkan berpuasa ketika telah melihat hilal.

Kedua: Hadist Kuraib: “dari Kuraib bahwasanya; Ummul Fadhl binti Al Harits mengutusnya menghadap Mu’awiyah di Syam. Kuraib berkata; Aku pun datang ke Syam dan menyampaikan keperluannya kepadanya. Ketika itu aku melihat hilal awal Ramadhan pada saat masih berada di Syam, aku melihatnya pada malam Jum’at. Kemudian aku sampai di Madinah pada akhir bulan. Maka Abdullah bin Abbas bertanya kepadaku tentang hilal, ia bertanya, “Kapan kalian melihatnya?” Aku menjawab, “Kami melihatnya pada malam Jum’at.” Ia bertanya lagi, “Apakah kamu yang melihatnya?” Aku menjawab, “Ya, orang-orang juga melihatnya sehingga mereka mulai melaksanakan puasa begitu juga Mu’awiyah.” Ibnu Abbas berkata, “Akan tetapi kami melihatnya pada malam Sabtu. Dan kami pun sekarang masih berpuasa untuk menggenapkannya menjadi tiga puluh hari atau hingga kami melihat hilal.” Aku pun bertanya, “Tidakkah cukup bagimu untuk mengikuti rukyah Mu’awiyah dan puasanya?” Ia menjawab, “Tidak, beginilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada kami.” [HR. Muslim]

Ketiga: Karena masing-masing negara berbeda-beda dalam waktu puasa, waktu sahurnya dan berbukanya pada setiap harinya, dan juga berbeda pula dalam waktu shalatnya. Maka demikian juga dalam permasalahan menentukan hilal. Ini adalah pendapat yang mencocoki dalil dan juga secara akal atau kenyataan

Soal kedua: Jika negara kita berbeda rukyah hilal Iedul Adha dengan negara Saudi, apakah kita berpuasa ‘Arafah dengan negara kita ataukah mengikuti wuqufnya jamaah haji di ‘Arafah?!

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini dalam dua pendapat;

Pendapat Pertama: Hari ‘Arafah adalah hari dimana para jamaah haji melakukan wuquf di ‘Arafah, oleh karena itu kaum muslimin mengikuti mereka dalam menentukan puasa hari ‘Arafah. Pendapat ini dipilih oleh al-Lajnah ad-Daimah dengan pimpinan asy-Syaikh Bin Baz, asy-Syaikh al-‘Utsaimin dalam salah satu pendapatnya (Fatawa nur ‘Alad Darbi 11/2), asy-Syaikh Muhamad Umar Baazumul, .. dan yang lainnya.

Dalil-dalil mereka:

1. Maksud dari hari ‘Arafah adalah hari dimana para jamaah haji melakukan wuquf di ‘Arafah. Diriwayatkan dari ‘Athaa secara mursal: «وعَرَفَةَ يَوْمَ تُعَرِّفُونِ» “Hari ‘Arafah adalah hari kalian wuquf di ‘Arafah.” [HR. Asy-Syafi’i, dishahihkan asy-Syaikh al-Albani dalam shahihul Jami’ no 4224] Telah datang pula dari ‘Aisyah secara mauquf semakna dengan hadits diatas. Atsar ‘Aisyah dishahihkan oleh Ad-Daruquthni dan asy-Syaikh Ahmad Syakir.

2. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyandarkan puasa kepada hari ‘Arafah, bukan ke tanggal sembilan dari bulan Dzul Hijjah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: قَالَ: وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ؟ فَقَالَ: «يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ» قَالَ: وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ؟ فَقَالَ: «يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ» “Kemudian beliau ditanya tentang puasa pada Arafah, maka beliau menjawab: “Puasa itu akan menghapus dosa-dosa satu tahun yang lalu dan yang akan datang.” Kemudian beliau ditanya tentang puasa pada hari ‘Asyura`, beliau menjawab: “Ia akan menghapus dosa-dosa sepanjang tahun yang telah berlalu.” [HR. Muslim]

Sisi Pendalilan: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyandarkan puasa ‘Arafah kepada hari ‘Arafah, bukan ke tanggal sembilan, dan tidak ternukilkan dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menyandarkan ke tanggal sembilan sebagaimana beliau menyandarkan puasa ‘Asyura ke tanggal sepuluh Muharam.

3. Berkata ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha; إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ، مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَإِنَّهُ لَيَدْنُو، ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمِ الْمَلَائِكَةَ، فَيَقُولُ: مَا أَرَادَ هَؤُلَاءِ؟». “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada satu hari pun yang di hari itu Allah lebih banyak membebaskan hamba-Nya dari api neraka daripada hari ‘Arafah, sebab pada hari itu Dia turun kemudian membangga-banggakan mereka di depan para malaikat seraya berfirman: ‘Apa yang mereka inginkan? ‘” [HR. Muslim]

Sisi Pendalilan: Tidaklah diragukan lagi bahwa yang dimaksud dalam hadits ini adalah hari dimana manusia melakukan wuquf di ‘Arafah, bukan hari yang lainnya. Oleh karena itu, pahala dan keutamaan puasa ‘Arafah ini didapat ketika manusia sedang melakukan wuquf di ‘Arafah.

Pendapat kedua: Hari ‘Arafah adalah hari kesembilan dari bulan Dzul Hijjah, baik bertepatan dengan wuqufnya jamaah haji di ‘Arafah maupun tidak. Pendapat ini dipilih oleh asy-Syaikh Bin Baz dalam salah satu fatwanya dan juga asy-Syaikh al-‘Utsaimin dalam salah satu fatwanya.

Dalil-dalil mereka:

1. Masalah ini merupakan cabang dari masalah pertama, yaitu apakah rukyah hilah pada setiap negara satu ataukah berbeda-beda? Oleh karena itu, penentuan hilal bulan Dzul Hijjah sama dengan bulan-bulan yang lainnya berdasarkan keumuman dalil-dalil dalam masalah pertama.

2. Yang dimaksud dari hari ‘Arafah adalah hari kesembilan, artinya yang menjadi tinjauan adalah kalender Hijriyah.

Setelah kita melihat diantara dalil-dalil dari dua pendapat ini, maka penulis lebih condong kepada pendapat pertama, yaitu puasa ‘Arafah mengikuti hari dimana para jamaah haji sedang melakukan wuquf di ‘Arafah. Wallahu a’lam.

Peringatan: Permasalahan fiqihyyah adalah permasalahan yang tidak lepas dari perbedaan diantara para ulama. Oleh karena itu, hendaknya kita berlapang dada dalam menghadapinya dan tidak boleh memaksa orang lain untuk mengikuti pendapat kita. Demikian juga dalam tulisan ini, penulis hanya memaparkan sedikit ilmu yang sampai kepada penulis dan memilih pendapat yang penulis pandang lebih mendekati kebenaran dari dalil-dalil yang ada. Wallahu a’lam.

Demikian artikel ini kami sampaikan, semoga bermanfaat untuk Islam dan muslimin.

Ditulis oleh Abu ‘Ubaidah Iqbal bin Damiri al-Jawy, 1 Dzul Hijjah 1435/ 25 September 2014_di Daarul Hadits_Al Fiyusy_Harasahallah.


4. Khilaf yang dibawakan Ustadz Abu ‘Ubaidah Iqbal bin Damiri al-Jawy pernah dibahas di forum sahab. Bisa dilihat di: http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=87236 dan http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=76171
Di forum sahab ini juga dibawakan khilaf dan dua kalam syaikh ibnu utsaimin, nukilan kalam Syaikh Muhammad Bazmuul dan Syaikh Rabi Al Madkhali.

Tambahan: Pendapat Syaikh Utsaimin untuk mengikuti ru’yatul hilal pemerintah setempat sangat sharih, dibanding dengan pendapat beliau bahwa puasa arafah negeri lain waktunya saat orang-orang wukuf di arafah meskipun menyelisihi negeri tempat dia tinggal. Walahu a’lam.

Comments are closed