Hukum menulis pelajaran, ahkam tajwid, atau asbabun nuzul ayat pada mushaf

Telah merata kebiasan di antara para penuntut ilmu (santri) madrasah tahfizh Al-Qur’an, menulis kesalahan dalam menghafal di pinggiran mushaf atau dengan memberi garis di bawah ayat, demikian juga menulis hukum tajwid pada pinggiran mushaf atau menulis tafsir kata-kata dalam al-Qur’an atau memberi catatan jumlah ayat.

Aku melihat termasuk dari ‘nasehat untuk kitabullah’ untuk mengumpulkan bimbingan para ulama yang dimudahkan untukku tentang hal itu. Berikut ini merupakan jawaban mereka, semoga Allah merahmati yang sudah meninggal dari mereka dan menjaga yang masih hidup dari mereka.

—————————————————————————-

Lajnah ad-Daimah ditanya: kami sekumpulan penuntut ilmu senang dengan pelajaran ahkam tartil dengan riwayat Warsy dari jalan al-Azraq, dan mushaf-mushaf yang ada di sisi kami juga demikian. Akan tetapi pelajaran kami butuh pada mendaftar hukum-hukum tersebut pada pinggiran mushaf agar kami bisa mengingatnya pada saat qiraah (membaca mushaf). Kami membaca al-Qur’an sebagaimana diturunkan sebagai pelaksanaan firman Allah:

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلا

“Bacalah al-Qur’an dengan tartil.”

Yang semisal dengan itu firman Allah ta’ala:

مَا لَكَ لاَ تَأْمَنَّا عَلَى يُوسُفَ

Maka kami meletakkan garis di bawah (تَأْمَنَّا) dan kami menulis berhadapan dengan itu di pinggiran mushaf: ditemukan padanya al-Isymam dan ar-Raum.

  1. Apakah boleh memberikan tulisan pada pinggiran kitab? Perlu diketahui bahwa kami telah membaca pada penutup mushaf cetakan al-Malik Fahd apa yang dinukil oleh Syaikh al-Hudzaifi tentang ijma’ salaf untuk tidak menulis apapun dalam mushaf selain al-Qur’an. Dan kami telah memberikan peringatan pada mushaf ini untuk tidak menulis jumlah ayat-ayat karena alasan hal itu. Jika hal itu tidak boleh, maka apa cara yang kami mampu untuk mengajarkan hukum-hukum tartil?
  2. Apakah boleh menulis asbab nuzul sebagian dan menafsirkannya secara ringkas pada pinggiran mushaf atau tidak boleh?
  3. Apakah boleh meletakkan nomor-nomor pada ayat-ayat (kata-kata) dari al-Qur’an dengan tujuan untuk menghitung dan membatasi yang gharib baik pada rasm atau lafadz? Seperti kami memberi angka 3 di atas kata (أيه) dari ayat (سَنَفْرُغُ لَكُمْ أَيُّهَا الثَّقَلاَنِ) untuk menunjukkan hal itu ada di tiga tempat di al-Qur’an.

Jawab:

Asalnya yang diamalkan oleh ummat Islam adalah tidak menambahi apapun pada kitabullah, dan mushaf al-Qur’an diwariskan diantara kaum muslimin tanpa tambahan atau pengurangan.

Oleh karena itu kami menasehatimu untuk meninggalkan perbuatan yang telah disebutkan yaitu memberi catatan pinggiran pada mushaf, dan engkau bisa menulis apa yang kau butuhkan pada lembaran khusus, dimana engkau mengisyaratkan nama surat dan nomor ayat, sehingga engkau menggumpulkan (dua hal, yaitu) menjaga kitabullah dan mencatat yang memberimu faedah serta membantumu untuk memahami kitabullah.

Dan taufik hanya dengan pertolongan Allah. Semoga shalawat dan salam terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, dan para shahabatnya.

Lajnah ad-Daimah Lil Buhuts al-Ilmiyyah Wal Ifta

Anggota: Bakr Abu Zaid

Anggota: Shalih al-Fauzan

Anggota: Abdullah bin Ghudyan

Wakil: Abdul Aziz Alu asy-Syaikh

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz

Fatwa No. 18618

—————————————————————————-

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya: Apakah boleh menulis sebagian hukum tajwid di mushaf al-Qur’an?

Jawab:

Tidak boleh ditulis apapun pada mushaf. Mushaf tidak ditulis padanya sesuatupun. Mushaf itu bersih kecuali dari kalamullah. Tidak ditulis catatan pinggiran, tidak juga tanda-tanda tajwid dan lainnya, karena mushaf itu wajib untuk dimurnikan dan khusus untuk kalamullah. (http://www.binbaz.org.sa/mat/11280)

—————————————————————————-

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah pernah ditanya: Wahai Syaikh Yang Mulia, satu fenomena yang muncul di kalangan para penuntut ilmu madrasah dan jamaah tahfizhul qur’an, yaitu melakukan sikap peremehan al-Qur’an al-Karim dan memberikan tulisan padanya dan memberikan tulisan yang tidak pantas pada al-Qur’an ini. Apa nasehat anda kepada para penanggung jawab madrasah-madrasah ini?

Jawab:

Wajib atas kaum muslimin untuk mengagungkan kalamullah dan menghormatinya. Oleh karena itu wajib bagi orang yang ingin menyentuh al-Qur’an untuk berwudhu sebagai pemuliaan dan pengagungan untuknya. Tidak boleh untuk memberikan tulisan dengan catatan-catatan yang tidak pantas pada al-Qur’an. Bahkan walaupun catatan-catatan itu pantas, seperti tafsir satu kata atau yang semisalnya. Yang lebih utama untuk tidak memberikan tulisan pada al-Qur’an sehingga al-Qur’an tidak tercampur dengan yang lainnya.

Jika ini terjadi pada para penuntut ilmu (santri), kewajiban para penanggung jawab seperti ustadz-ustadz atau pengawas untuk memberikan hukuman orang yang melakukan demikian dengan perkara yang mereka pandang bisa menyadarkan mereka dan orang semisal mereka. (Liqa Bab al-Maftuh, pertemuan 88 side B soal 1)

—————————————————————————-

Syaikh Abdul Aziz Ar-Rajihi rahimahullah pernah ditanya: Sebagian penuntut ilmu (santri) madrasah butuh untuk menulis pada pinggiran mushaf secara harian. Apakah itu boleh, padahal telah diketahui bahwa mushaf itu tidak diperhatikan penuntut ilmu (santri) setelah selesai tahun?

Jawab:

Tidak sepantasnya untuk memberikan tulisan pada mushaf meskipun di sisi-sisinya. Tetapi hendaknya diberikan catatan pada satu kertas. Dan kertas itu tersedia banyak sedangkan mushaf seharusnya dijaga. Jika mushaf tidak dibutuhkan seseorang hendaknya diberikan kepada orang yang bisa memanfaatkannya dan membacanya atau diletakkan di masjid. Jika robek, hendaknya dibakar atau dipendam di tanah yang suci. (Fatawa Munawwa’ah Kaset 18 detik 14:23)

—————————————————————————-

Syaikh Zaid bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah pernah ditanya: Apakah boleh memberikan tulisan sebagian hukum-hukum tajwid yang diberikan seorang guru pada pinggiran mushaf?

Jawab:

Dia hendaknya memilih buku tulis, santri ini hendaknya memilih satu buku tulis dan tidak memberikan catatan pada sisi mushaf yang bisa megacaukan orang yang membaca mushaf. Hendaknya dia mengambil satu buku tulis yang diiringkan dengan mushaf dan mencatat hukum-hukum tajwid yang dia kehendaki pada buku tulis itu. Ini pendapatku dalam masalah ini.

—————————————————————————-

Aku (Abu Muhammad Abdud Daim Al-Atsari) pernah bertanya kepada Syaikh al-Mahir Azh-Zhafir Al-Qahtani hafizhahullah: Apa hukum memberikan tulisan pada mushaf dengan pensil untuk belajar, wahai syaikh, dan perlu diketahui tulisan itu oleh para pelajar (santri) untuk mengetahui kesalahan-kesalahannya pada al-Qur’an dan koreksinya. Setelah hafalannya sempurna dia menghapus tulisan itu?

Jawab:

Sepantasnya untuk membersihkan mushaf dari semisal ini untuk memuliakannya dan mensucikannya dari sikap sia-sia dan lancang terhadapnya.

Karena kadang tulisan ini kadang masih ada, sehingga menyamarkan orang yang membacanya. Allah berfirman:

ومن يعظم شعائر الله فإنها من تقوى القلوب

“Barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka itu termasuk dari ketakwaan hati.”

Hendaknya dia memindahkan dari mushaf ke satu lembar dan hendaknya dia mencatat pelajaran padanya dan membiarkan mushaf terjaga dari catatan-catatan semisal ini. Allah berfirman: (yang artinya) “Barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka itu termasuk dari ketakwaan hati.” (http://www.al-sunan.org/vb/showthread.php?t=3507&highlight=%C7%E1%CE%D8+%C7%E1%E3%D5%CD%DD, soal ketiga)

—————————————————————————-

Semoga Allah memberkahi syaikh-syaikh kita. Dan kami memohon Allah untuk memasukkan mereka ke dalam surga.

Dan barangsiapa yang memiliki ucapan para ulama dalam masalah ini, hendaknya memberikan faedah kepada kami. Semoga Allah membalas kebaikan kalian.

Dicuplik dari kumpulan fatwa ulama oleh Abu Muhammad Abdud Daim Al-Atsari, Sumber: http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=123092&view=findpost&p=606038

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 × 2 =