Hukum Memberikan Pelajaran Khusus untuk Para Mubtadi dan Hizbiy

Dari pertanyaan-pertanyaan Abu Abdillah Khalil bin Ahmad Al-Kalari kepada Asy-Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah wash shalatu was salam ‘ala Rasulillah, wa’ala alihi wa ash-habihi waman walah … Amma ba’du:

Penanya: Syaikh kami yang mulia, apa pendapat anda tentang mengajar para mubtadi’ah dan para hizbiyyin, oleh seorang yang dikenal bahwa dia adalah seorang salafi, dengan pelajaran-pelajaran ilmiah khusus. Khususnya kepada para tokoh mereka.

Syaikh: Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Dan akibat yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa. Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu baginya, sesembahan orang-orang dulu dan orang-orang belakangan. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Semoga shalawat terlimpah kepada beliau, keluarganya, para shahabatnya dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik sampai hari kiamat. Adapun sesudah itu:

Pada malam ini, malam hari sabtu tanggal 4 ramadhan 1431 H, telah terwujud pertemuan ini bersama beberapa ikhwah dari Negara Iraq dimana mereka memiliki beberapa pertanyaan, dintaranya soal yang kita dengar ini: tentang seorang yang dikenal sebagai salafi dan memberikan pelajaran kepada para hizbiyiin atau tokoh-tokoh hizbiyyin dengan pelajaran khusus?

Maka aku berkata: Ini sungguh mengherankan!! Sesungguhnya asalnya yang sering ditanyakan adalah pelajaran-pelajaran yang diadakan oleh salafiyyin atau para penuntut ilmu dari kalangan salafiyyin yang diajar oleh sebagian ahli bid’ah, dengan alasan salafiyyin butuh belajar dari mereka atau mencari sebagian ilmu yang tidak didapati kecuali disisi ahli bid’ah …. Inilah kebiasaan yang sering kita tanyakan. Sedangkan gambaran yang ini sungguh mengherankan!!

Dimana orang yang dinisbatkan kepada manhaj salafi, datang kepada mereka (para hizbiyyin) atau menyetujui para hizbiyyin ini atau para tokoh hizbiyyin ini –sebagaiamana yang ditanyakan- kemudian dia memberikan pelajaran khusus. Aku mengatakan ini sangat aneh, yang muncul dari seorang yang mengaku dia salafi. Seorang salafi tidak mungkin menyetujui para ahli bid’ah dalam majlisnya -kecuali jika dia taubat, sadar dan kembali- maka dia waktu itu meninggalkannya.

Adapun asalnya adalah kisah Imam Malik, ketika ditanya oleh seseorang tentang: “Allah berisitiwa di atas ‘arsy. (QS. Thaha: 5), bagaimana Dia beristiwa?”

Kemudian beliau menundukkan kepada –semoga Allah meridhai mereka- sampai bercucuran keringatnya, kemudian beliau mengangkat kepalanya seraya berkata: “Istiwa itu ma’lum (diketahui maknanya), sedangkan kaifiyahnya tidak diketahui”, atau berkata: “Istiwa itu dipahami, sedang kaifiyahnya tidak diketahui. Beriman dengannya adalah wajib, bertanya tentangnya adalah bid’ah. Dan aku tidak memadangmu kecuali adalah seorang mubtadi.” Kemudian beliau mengusirnya dari majlisnya, kemudian memerintahkan untuk mengeluarkan orang itu dari masjid.

Inilah keadaan salaf shalih kita –semoga Allah merahmati mereka- terhadap ahlul hawa dan ahlul bid’ah. Mereka tidak membiarkan ahlul bid’ah di majlis mereka dan tidak menyetujui mereka duduk bersama mereka, karena mereka mengetahui bahayanya mereka yang sangat. Jika orang yang diberi pelajaran ini adalah seorang tokoh hizbiyyah -sebagaimana ditanyakan-, maka kami kawatir terhadap orang yang mengajar tokoh hizbiyyah ini dan teman-temannya dia akan condong hatinya kepada mereka, jika dia mengetahui tokoh hizbiyyah itu dan tanzhim serta hizbiyyah para hizbiyyin. Sesungguhnya orang ini telah mati disisinya al-wala’ wal bara’.

Yang asal adalah membenci ahlu hawa dan ahlul bid’ah, dan hati-hati dari mereka dan memperingatkan manusia dari mereka. Para imam telah membuat bab-bab dalam masalah ini dalam kitab-kitab as-Sunnah (al-‘Aqaid). Al-Imam Abu Dawud rahimahullah telah membuat judul bab dalam Kitab Sunan beliau satu bab tentang al-kitab dan as-sunnah, beliau berkata: “Bab Tentang Menjauhi Ahlul Hawa dan Membenci mereka.”

Dan sikap menjauhi yang hakiki terhadap ahlul hawa tidak akan terwujud kecuali dengan membenci mereka: pertama: dengan menjauh dari mereka, kedua: membenci mereka dalam hati bersamaan dengan menjauhi mereka. Dan tidak sempurna iman dalam masalah al-wala dan al-bara’ kecuali dengan hal ini. Demikian ini karena seseorang yang kadang telah menjauhi seorang mubtadi’ karena takut atas dirinya di dunia dari bahaya yang menimpanya jika dilihat bersama mubtadi tersebut, akan tetapi hatinya mencintainya dan condong kepadanya. Namun dia ketika mengkawatirkan dirinya dia menjauhi karena mencari keselamatan. Jika tidak maka dia akan condong kepadanya dengan hatinya dan mencintainya. Oleh karena itu Al-Imam Abu Dawud berkata: “Bab Menjauhi Ahlul Hawa dan Membenci mereka” untuk menjelaskan bahwa sikap menjauhi secara hakiki tidak akan terwujud kecuali dengan membenci dan menjauhi mereka. Karena menjauhi mereka semata tidaklah tanda memutuskan. Karena kadang seseorang menjauhi sebagaimana kami katakan dia condong kepada mereka dengan hatinya, karena suatu perkara yang dia kawatirkan atas dirinya sehingga dia mendahulukan keselamatan. Maka mesti diketahui kejujurannya dalam hal ini dengan menampakkan apa yang ada dalam hatinya dengan lisannya, dengan meng-hajr ahlul hawa dan memperingatkan mereka dan mencela jalan mereka yang mereka tempuh dan men-tahdzir jalan mereka. Dengan ini akan nampak bagi manusia bahwa dia telah jujur dalam menjauhinya. Karena tidak cukup menjauhi dengan badan semata, tetapi mesti juga dengan hati yang membenci para mubtadi itu. Kemudian Al-Imam Abu Dawud menyebutkan di bawah judul bab tersebut satu hadits:

أَوْثَقُ عُرَى الإِيْمَانِ

“Tali iman yang paling kuat.”

Maka cinta dalam jalan Allah dan membenci dalam jalan Allah merupakan tali iman yang paling kokoh.

Al-Imam Ahmad rahimahullah telah menyatakan memberi salam kepada ahli bid’ah menunjukkan kecintaan kepada mereka. Maka semata memberikan salam kepada mereka menunjukkan kecintaan kepada mereka. Beliau berdalil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أَفَلا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَىْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ، أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ

“Tidakkah aku tunjukkan kalian kepada sesuatu jika kalian lakukan, kalian akan saling mencintai, sebarkan salam di antara kalian.” (HR. Muslim)

Ahlul hawa dihinakan, direndahkan, dan dijauhi, bukannya malah dia mendekati tokoh diantara mereka secara khusus, bukannya malah dia mendekati dan memberikan satu pelajaran secara khusus.

Sesungguhnya perbuatan dia memberikan pelajaran khusus –yang nampak bagiku- bahwa dia sangat menghormati tokoh ahli bi’dah itu. Jika tidak maka dia tidak akan memberikan majlis khusus dan menyempatkan memberikan waktunya untuk duduk bersamanya. Aku berkata: Sesungguhnya orang ini aku kawatirkan telah cenderung dengan hatinya kepada para ahlul bid’ah itu. Jika dia telah condong dengan hatinya kepada mereka, maka tidak aneh akan terjadi hal itu darinya. Dan ketahuilah bahwa orang yang berkudis tidak akan sembuh dengan dekatnya orang sehat, akan tetapi orang sehat itu yang akan tertulari.

Ucapan salaf tentang ahlul bid’ah adalah mutawatir (sangat banyak) dalam membuat peringatan dari duduk-duduk dengan ahlul bid’ah, terlebih dari mendekati mereka dalam majlis-majlis khusus dan memberikan pelajaran khusus!! Orang yang ditanyakan ini, atau pertanyaan yang ditanyakan saudaraku ini tentang orang itu menunjukkan bahwa orang itu bukanlah salafi. Wallahu al-musta’an.

Dan akhir doa kami segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

Sumber: http://www.sahab.net/forums/index.php?s=9f3b4ade3f8a6acb0d516531e4b09a7c&showtopic=119490

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seventeen + 17 =