Syarat-syarat Sahnya Jual Beli As-Salam

Syarat-syarat Sahnya Jual Beli As-Salam

Oleh Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili hafizhahullah

“Para ulama menjelaskan: Jual beli as-salam (assalaf) mempuyai syarat-syarat agar bisa sah:

  1. Hendaknya sesuatu yang dijual bisa disifati
  2. Hendaknya sesuatu yang dijual dan ats-tsaman (sesuatu yang digunakan untuk membeli) bukan termasuk yang bisa terjadi padanya riba nasiah. Telah dijelaskan kemarin bahwa empat jenis barang yang bisa terjadi padanya riba nasiah, seperti: emas, perak, dan yang semisalnya masing-masing dan satu sama lain.
  3. Hendaknya disebutkan sifat yang berpengaruh pada ats-tsaman (sesuatu yang digunakan untuk membeli) dan dicari oleh manusia.
    “Sifat yang berpengaruh pada ats-tsaman”, misal jika kita mulai membicarakan tentang beras harus disebutkan jenisnya, misal: beras mesir atau india, dan semisalnya. Beras india juga harus disebutkan kualitasnya, misal yang baik atau yang jelek. Sesuai yang diketahui manusia. Karena hal ini berpengaruh pada harga. Setiap sifat yang bisa berpengaruh pada harga harus disebutkan.
    Sedangkan sifat yang tidak berpengaruh pada ats-tsaman ini tidak harus disebutkan. Misal berasnya putih atau agak kekuningan. Ini tidak mempengaruhi ats-tsaman di sisi manusia. Maka tidak butuh untuk disebutkan. Hanyalah yang disebutkan sifat yang berpengaruh pada ats-tsaman dan dianggap penting manusia, yang ingin diperoleh dan dicari oleh manusia.
  4. Diketahui kadar sesuatu yang dijual yang akan diserahkan. Berapa kg beratnya? Atau berapa sha’ volumenya?
  5. hendaknya waktu tunda (penunaian sesuatu yang dibeli) dengan waktu yang jelas. Ini mafhum dari hadits. Bisa ditunda sampai 1 jam, 3 jam, 2 hari, atau 3 hari.
    Sebagian ahlul ilmi mengatakan minimalnya 1 jam, sebagian mengatakan 1/2 hari. Ada yang mengatakan minimalnya 3 hari. Namun yang benar yang dipegang jumhur: minimal waktunya adalah yang berpengaruh pada ats-tsaman. Yaitu pada waktu tunda yang mu’tabar, yang kebiasaannya bisa berpengaruh kepada ats-tsaman. Yang benar hal itu dikembalikan kepada urf (adat kebiasaan setempat), karena perbedaan barang yang dijual berbeda-beda.
    Pada satu barang dagangan bisa berubah setiap hari, misal tomat, bisa berubah ubah harganya. Sekarang dengan suatu harga, bisa jadi besok bisa lebih mahal, besoknya lagi bisa lebih murah. Ini bisa berubah dalam hari.
    Pada setiap barang ada yang harganya berubah tiap bulan.
    Intinya hendaknya waktu tunda bisa berpengaruh pada ats-tsaman, dan ketentuannya kembali kepada urf dan adat kebiasaan manusia.
  6. Hendaknya penjual mendapatkan ats-tsaman pada majlis akad agar tidak menjadi jual beli al-kali’ bil kali’ (yang diharamkan).
  7. Hendaknya kuat dugaan akan adanya barang yang dijual ketika waktu habisnya waktu tunda.

JIka dipenuhi syarat-syarat ini dengan syarat jual beli, maka sah jual beli as-salam (salaf) ini.”
Diterjemahkan dari rekaman yang bisa didengarkan dari: youtube.com/watch?v=qk6mlgiAs3Y

Wallahu a’lam

Comments are closed