Apakah membantah ahli bidah memutuskan jalan ilmiyah yang ditempuh seorang thalabul ilmi dalam perjalanannya menuju Allah?

Yang Mulia Syaikh Rabi bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah ditanya:

Banyak orang bahwa membantah ahli bidah dan pengekor hawa nafsu memutus jalan ilmiyah yang ditempuh seorang thalabul ilmi dalam perjalanannya menuju Allah. Apakah ini benar?

 

Jawaban beliau:

Ini pemahaman yang bathil. Ini merupakan metode ahlul bathil dan ahli bid’ah untuk membungkam lisan ahlussunnah. Pengingkaran terhadap ahli bid’ah termasuk pintu teragung dari amar maruf nahi munkar.

Tidak ada yang membedakan umat islam ini dibanding dengan umat-umat yang lain kecuali dengan keistimewaan ini (amar ma’ruf nahi munkar).


كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imran: 110)

Mengingkari kemungkaran adalah praktek dari pemahaman agama Allah yang dipelajari seorang pemuda muslim dan dari belajarnya dia terhadap kitabullah dan sunnah Rasul-Nya yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jika dia tidak menerapkan amar ma’ruf nahi munkar ini, khususnya tentang ahli bid’ah, dia telah masuk ke dalam firman Allah Tabaraka wa Ta’ala:

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُدَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ * كَانُوا لاَ يَتَنَاهَوْنَ عَن مُنكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

“Telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS. Al-Maidah: 78-79)

Jika dia memandang bahwa bid’ah tersebar, memiliki penyeru, penopang, orang-orang yang membelanya, dan orang-orang yang memerangi ahlussunnah, maka bagaimana dia bisa diam? Sedangkan ucapan mereka bahwa ini (membantah ahli bid’ah) akan memutus dari ilmu, ini adalah kedustaan, bahkan ini termasuk ilmu dan penerapan ilmu.

Bagaimanapun keadaannya maka seorang penuntut ilmu harus mengkhususkan waktu untuk tahsil (memperoleh ilmu). Dia harus bersungguh-sungguh dalam tahsil. Dia tidak akan bisa menghadapi kemungkaran kecuali dengan ilmu. Dia bagaimanapun keadaannya berusaha menperoleh ilmu dan dalam waktu yang bersamaan juga menerapkan ilmunya. Semoga Allah memberkahi pelajar yang mengamalkan ilmunya.

Kadang berkah dicabut ketika dia melihat kemungkaran di depannya, dia malah mengatakan: “Tidak tidak, ketika aku masih menuntut ilmu.” Dia melihat kesesatan dan ahlul bathil mengangkat siar-syiar bathil dan mengajak manusia kepadanya dan menyesatkan manusia, kemudian dia berkata: “Tidak tidak, aku tidak akan menyibukkan diri dengan perkara ini. Aku akan menyibukkan diri dengan ilmu.” Maksudnya dia akan terbiasa dengan basa-basi.

http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=124566 dari Al-Ajwibah As-Salafiyyah ‘Ala As’ilah Abi Rawahah Al-Manhajiyyah.

Recent Posts : [archives limit=5]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seventeen + one =