10 Hari Pertama Dzulhijjah & Memanfaatkannya Untuk Beramal Shalih

Tuntunan pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah dan Memanfaatkan Waktunya Untuk Beramal Shalih

Amalan-amalan yang disyariatkan pada sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah

Oleh: Syaikh ‘Abdul Qadir bin Muhammad bin Abdurrahman Al Junaid hafizhahullah
Khutbah I

الحمد لله ذي الفضل العظيم، والإحسان الكثير، والبِر الواسع العميم، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، ولا رب سواه، وفَّق من شاء من عباده لتحصيل المكاسب والأجور، وجعل شغلهم بتحقيق الإيمان والعمل الصالح، والاستكثار منه، يرجون تجارة لن تبور.
وأشهد أن محمداً عبده ورسوله ومصطفاه، الداعي إلى الفوز بدار السلام، والبالغ بشرفه أعلى مقام، فاللهم صل وسلم وبارك عليه، وعلى آله الذين شرفوا بالانتساب إليه، وأصحابه الذين نقلوا سنته، وجاهدوا بين يديه،، ومن سلك طريقهم إلي يوم الدين

Adapun sesudah itu, wahai manusia …
Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya, dan konsentrasilah kepada sebab-sebab rahmat dan ampunan-Nya. Lakukanlah semua sebab yang bisa menyampaikan kalian kepada ridha-Nya, menyampaikan kalian kepada keutamaan-Nya yang agung, mendekatkan kalian kepada surga dan menjauhkan kalian dari neraka. Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat dengan orang-orang yang berbuat ihsan.
Ingatlah bahwa kalian setelah beberapa hari akan masuk ke dalam hari-hari mulia, hari-hari penuh keutamaan, hari-hari yang agung, hari-hari teragung dalam setahun, yaitu sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah yang merupakan salah satu dan yang terakhir dari empat bulan haram. Allah telah memuji dalam kitab-Nya tentang perkara dan keagungannya:


وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

“Dan mereka telah menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah diketahui.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah meninggikan, menganggap besar dan memuliakan perkara hari-hari itu. Imam Al Bukhari dan Imam At Tirmidzi telah mentakhrij hadits dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma -berikut ini lafadznya At-Tirmidzi-, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

“Tidak ada hari-hari yang perbuatan amal shalih padanya lebih disukai Allah daripada sepuluh hari-hari (pertama Dzulhijjah) ini.” Para shahabat bertanya: “Wahai rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Tidak juga jihad di jalan Allah. Kecuali seorang yang keluar (berijihad) dengan jiwa dan hartanya,kemudian tidak ada sesuatupun yang kembali dari hal itu.”

Hadits ini menunjukkan beberapa faedah, diantaranya:
Pertama: Agungnya perkara hari-hari ini. Bahwa hari-hari ini adalah yang paling mulia dan paling utama dari hari-hari setahun. Bahkan ahlul ilmi telah menyatakan bahwa 10 hari-hari awal Dzulhijjah ini lebih utama walaupun dari sepuluh hari terakhir bulan ramadhan.
Kedua: Taqarrub kepada Allah dengan amal-amal shalih pada hari-hari ini lebih disukai Allah dari seluruh hari-hari lainnya.
Ketiga: Dorongan dan anjuran untuk memperbanyak amal shalih pada hari-hari ini.
Keempat: Seluruh amal berupa haji, shalat, puasa, shadaqah, bacaan qur’an, serta dzikir dan lainnya pada hari itu akan dilipatgandakan pahalanya.
Wahai kaum muslimin, bersungguh-sungguhlah baik diri-diri kalian, keluarga kalian, atau anak-anak kalian agar termasuk orang-orang yang memperbanyak amal shalih pada hari-hari ini. Hendaknya juga saling mengajak dan mengingatkan. Janganlah syaithan menghambat kalian. Hari-hari ini terbatas tetapi memiliki pahala yang agung. Cepat lewatnya. Barangsiapa yang terhalangi dari kebaikannya maka dia telah terhalangi dari kebaikan yang banyak.

Telah tsabit dari Al Qasim bin Abi Ayyub, bahwa dia berkata: “Dulu Sa’id bin Jubair jika memasuki sepuluh hari pertama Dzulhijjah sangat bersungguh-sungguh, hampir-hampir saja beliau tidak mampu melaksanakannya.”

Wahai kaum muslimin,
Diantara ibadah utama yang pantas untuk kita perhatikan, menambah dan bersegera pada hari-hari penuh keutamaan ini adalah ibadah-ibadah berikut ini:
Pertama: Puasa pada 9 hari pertama. Berpuasa pada 9 hari ini sunnah menurut para imam yang empat dan lainnya. Puasa ini terkenal pada masa salaf shalih, baik kalangan shahabat, tabiin dan yang setelahnya.
Kedua: Memperbanyak membaca al-qur’an. Barangsiapa kuasa untuk mengkhatamkan sekali atau lebih, maka dia telah mencurahkan kebaikan yang banyak pada dirinya.
Ketiga: Memperbanyak sedekah, membantu kaum muslimin dan melonggarkan kesempitan mereka.
Keempat: Menjaga shalat-shalat fardhu pada waktu-waktunya, bersama jamaah, dan bersemangat untuk melaksanakan shalat-shalat nafilah, shalat dhuha, shalat sunnah wudhu, qiyamul lail, dan shalat witir.
Kelima: Memperbanyak dzikir, berdoa, tasbih, tahmid, tahlil, dan istighfar daro dosa pada seluruh waktu dan tempat. Baik di rumah, di kendaraan, di tempat kerja, ketika keluar masuk, dan ketika berjalan.
Keenam: Bertakbir pada hari-hari ini dan memperbanyaknya: “Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah, Wallahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamdu.” Takbir ini pada sepuluh hari itu semuanya diamalkan salaf shalih dari generasi yang utama, dengan pemuka mereka para shahabat nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Imam Al Bukhari rahimahullah berkata di dalamnya Shahihnya:

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَأَبُو هُرَيْرَةَ يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِي أَيَّامِ العَشْرِ يُكَبِّرَانِ، وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا

Dan selain Al-Bukhari menambahkan:

لا يخرجان إلا لذلك

Maimun bin Mihran rahimahullah berkata:

أدركت الناس وإنهم ليكبرون في العشر، حتى كنت أشبهه بالأمواج من كثرتها

“Aku mendapati para shahabat mereka bertakbir pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah, sampai aku menyerupakannya seperti ombak karena saking banyaknya.”

Takbir ini disyariatkan untuk seluruh manusia, baik laki-laki atau perempuan, kecil atapun besar, di rumah-rumah, pasar, masjid atau di atas kendaraan, di waktu bepergian atau tidak, baik sedang dalam keadaan duduk, atau mengendarai atau berbaring, atau berjalan, dan di seluruh waktu. Kecuali dia tidak bertakbir setelah salam selesai shalat, baik dia shalat di masjid atau di rumah atau di tempat kerja, atau di tempat manapun. Karena takbir yang waktunya setelah shalat, itu bagi orang yang ada di perkotaan sejak dari waktu fajar hari arafah sampai shalat ashar akhir hari tasyriq, kemudian dihentikan.

بارك الله لي ولكم فيما سمعتم، وجعلنا من المنتفعين العاملين، وتاب علينا، إنه هو التواب الرحيم

Bersambung ke Khutbah II:

Sumber: http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=132785&hl=

Comments are closed